Monday, June 14, 2010

Modern Etnik


KONSEP east meets west memengaruhi koleksi desain dalam negeri. Para desainer menciptakan desain unik, etnis, namun bernuansa kini.


Dilihat dari banyaknya pekan mode dan pagelaran busana yang dilakukan para desainer Indonesia,kolaborasi desain Timur dan Barat tersebut seolah memberikan identitas tersendiri pada hasil karya desainer dalam negeri. Musa Widyatmodjo misalnya. Desainer yang tengah fokus mengembangkan lini sekundernya,M by Musa, ini tak pernah ketinggalan menyuguhkan koleksi apik namun tetap bercitra etnis.Seperti yang dipertunjukkannya di malam pembukaan maupun di pertunjukan tunggalnya di Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) 2010, beberapa waktu lalu. Saat itu koleksinya mengambil tema Hun Li yang merupakan perpaduan budaya China-Padang.

”Hun Li berarti pesta pernikahan yang kemudian saya refleksikan dalam perpaduan harmonis warisan budaya Timur dan Barat, dengan ciri pengantin China,” papar Musa. Nuansa etnis yang lebih kental ditampilkan Stephanus Hamy yang kali ini mengangkat kain tapis lampung.Hamy menempatkan kain tapis lampung sebagai fokus utama yang dipadukan bersama kain kontemporer dalam kemasan praktis ala busana Barat. ”Selama ini kain tradisional yang banyak diangkat ke permukaan itu kalau tidak batik,ya tenun ikat.Sementara kain tapis lampung ini belum banyak yang mengolah,” paparnya. Hasilnya, koleksi yang eksotis sekaligus atraktif. Hamy berhasil memunculkan sifat unik kain tapis,namun sekaligus mempertahankan look internasional dalam koleksinya.

Lainnya, Hamy menawarkan gaya yang lebih glamor melalui detail lipit, layer, serta penggunaan embelishment untuk memperkaya rancangannya. Adapun unsur kontemporer terlihat dari penggunaan obi sebagai pengganti ikat pinggang yang dipadankan bersama batwingberaksen lipit serta celana panjang yang sengaja dibuat dari kain tenun. Selanjutnya, Didi Budiardjo menunjukkan kekayaan budaya Tanah Air dalam gaya berbeda. ”Inspirasi bajunya dari baju bodo. Jadi geometrikal bentuknya,” tuturnya. Dia juga mengatakan, tenunan dalam koleksinya merupakan paduan dari tenun majalaya, tenun bugis,dan tenun jepara.

Didi menjelaskan, koleksi rancangan tersebut diilhami oleh kedatangan James Brooke ke Makassar,Sulawesi Selatan,sekitar satu setengah abad silam.Saat itu,orang Bugis menanyakan kepada Brooke bagaimana kabar Napoleon setelah digulingkan. ”Itu sesuatu yang menarik karena tahun segitu orang sudah peduli dengan isu-isu internasional,” papar desainer yang baru saja pulang dari fashion showdi Jepang itu. Adapun Priyo Oktaviano mengemas kain tenun ikat bali dalam napas elegansi lewat tema Bali of Arc dan Carmanita mengambil gaya effortless ethnicmenggunakan tie dye bercorak geometris.Rumah Pesona Kain berkolaborasi dengan Oscar Lawalata.

Keduanya menunjukkan dua cara pengolahan kain tradisional, yakni dengan gaya kontemporer berupa terusan maxi atau gaya tradisional dengan mengembalikan fungsi kain sebagai padanan busana tradisional, layaknya baju bodo,baju kurung,maupun kebaya.(lesthia kertopati)

1 comment:

  1. Saya atas nama vina yunita dari aceh selaku konsumen y@ng sering order kamera di Sentra Digital Surabaya barang benar2 memuaskan siapa tau agan2 М̤̣̲̣̥̈̇@̤̥̣̈̊̇υ̲̣̥ beli kamera hub : 082313333937 PIN BB : 2B37C8e6

    ReplyDelete